Beberapa hari kemarin, aku sempat tersentak atas keadaan seorang pengemis yang aku temui di area Bazar Buku. Tempatnya tak jauh dari kampusku. Beliau sudah renta, namun tetap harus mencari uang untuk sesuap nasi agar Beliau dapat terus melanjutkan sisa hidupnya. Dan mungkin, satu-satunya cara yang dapat dia lakukan adalah mengemis.
Keadaan Beliau sungguh sangat mengharukan. Bahkan untuk jalan saja Beliau kerepotan. Entah penyakit apa yang Beliau derita. Namun sepertinya kalau menurut buku yang pernah aku baca, fisik Beliau menunjukkan kalau beliau sedang sakit ayan. Terbayang kan, bagaimana ayan itu. Beliau harus berjalan seperti (maaf) seekor kepiting. Yah, jalan miring! Belum lagi seluruh tubuhnya gemetaran seperti orang yang sedang sakit parkinson. Namun 10X lebih parah dari hanya sekedar Parkinson.
Sumpah demi semua kebahagiaan yang akan aku miliki dalam hidupku, aku benar-benar tak mampu melihat Beliau. Jika saja aku bisa, aku ingin memberikan sesuatu yang bisa berarti untuk hidupnya. Apapun itu! Bahkan setiap pengendara motor yang sedang menikmati perjalanannya pun, merelakan sedikit waktunya untuk memberi Beliau sedikit sedekah.
Allah benar-benar mencoba membukakan mataku. Betapa beruntungnya aku, aku dikaruniai fisik yang sempurna. Mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, bahkan otak yang membuatku mampu berpikir. Ini anugrah yang amat sangat indah. Tidak ada satupun toko didunia ini yang mampu menjual barang-barang sebaik ciptaan Profesor Maha Hebat.
Terimakasih Ya Allah.
Terimakasih untuk setiap oksigen yang Kau berikan gratiss....
Terimakasih untuk setiap pembuluh darah yang Kau sisipkan dalam tubuhku untuk mengalirkan tetes-tetes darahku...
Terimakasih untuk sebongkah otak yang Kau tinggalkan di kepalaku yang membuatku mampu berpikir...
Terimakasih untuk semua indra yang Kau tempelkan padaku...
Terimakasih untuk setiap puzzle cobaan dan ujian yang Kau letakkan pada jalan yang aku langkahi...
Terimakasih untuk setiap kotak kebahagiaan yang Kau lemparkan padaku...
Terimakasih telah menitipkan aku pada keluarga yang sangat menyayangi ku...
dan semua keajaiban yang tak mampu ucapkan lagi. Karena terlalu banyak.
Aku sempat menitikkan air mata melihat Beliau. Sangat renta...
Hatiku terasa tercabik-cabik. Mengingat bagaimana aku menyiayiakan waktuku hanya untuk bersenang-senang saja. Bahkan sholat 5 waktu sering sekali aku tinggalkan. Aku tak mampu menbayangkan jika suatu saat nanti aku bernasib sama seperti bapak tua itu. Tidak Ya Allah... Aku tak mungkin sanggup menerima cobaan seperti Beliau. Yah, Beliau memang sangat hebat.
Forgive me, God...
Hamba mohon ampun...
Ya Allah, aku merasa kotor dihadapan-Mu. Kotor atas semua dosa, kesalahan, dan khilaf yang pernah hamba-Mu lakukan ini. Aku ingin dekat dengan-Mu, Ya Allah. Bantu aku untuk selalu berjalan bersebelahan dengan-Mu.
Aku tidak lebih besar dari sebutir debu yang sering diterbangkan angin, namun dosa yang hamba lakukan sudah sebesar gunung yang hendak meledak. Aku tak mau dosa-dosa itu semakin membesar. Mohon bantu hamba mengecilkannya, Ya Allah....
Yah, aku ingin menjadi wanita solehah kebanggaan-Mu....




0 komentar:
Posting Komentar