Andai aku bisa melawan, mungkin sudah dari dulu aku merasa lega. Setiap hari selalu terluka karena mengalah. Mengalah untuk bukan untuk sebuah kemenangan yang tertunda, tapi untuk keterpurukan. Hinakah aku, aku disini untuk menemani, bukan untuk jadi caci-maki. Lelah aku setiap hari beradu mulut. Aku juga tak ingin ini terus berlanjut.
Setiap hari menahan luka
Setiap hari menahan amarah yang selalu meluap
Setiap hari menahan air mata yang seakan ingin membanjiri duniaku
Setiap hari memakai topeng kebahagiaan
Ingin rasanya aku pergi, lari dan sembunyi dari semua ini. Namun, tanggung jawab yang besar membuat aku tak kuasa meninggalkannya. Aku tak bisa terus tinggal diam melihat kenistaan ini. Ampuni aku Tuhan, bila pada akhirnya aku menjadi anak yang durhaka. Akan kubiarkan dia melukaiku sampai titik kepuasan yang tertinggi, tapi berikan aku kekuatan untuk dapat melindungi orang-orang yang kusayangi. Biar luka menjadi semangatku untuk tak pernah menyerah.
Maaf, bila aku tak bisa menjadi anak yang baik. Aku juga benci melakukannya. Namun, titik kesadaran mu mungkin akan terbuka, bila melihat aku terkapar di depan mu karena ke-kurang ajaran yang kau nilai. Asal kau tahu, aku hanya ingin membuatmu merasa bahwa kami ada bukan untuk menerima segala kata dan perlakuan burukmu, tapi untuk kau sayangi selayaknya anak dan istrimu...





0 komentar:
Posting Komentar